12/22/2010

dIDDi AGePhe, Ciptakan Musik Pencerah Jiwa



Nama aslinya Didi AGP, tapi lebih senang jika ditulis Diddi AGePhe. Dalam sebuah kesempatan, musisi yang dikenal sebagai pelopor musik meditasi Indonesia ini menampilkan suguhan musik baru secara live bertajuk “11.11. from duality to oneness”.

Ini adalah bentuk gebrakan nya terhadap kekuatan bunyi. Malam itu, di Planetarium TIM, Jakarta, Kamis (11/11), Diddi tampil bersama Andi Ayunir menawarkan musik elektronik sebagai media penyembuhan dan spiritual.
Ada 11 komposisi yang ia bawakan melalui media elektronik, seperti i-phone, i-pad, softsynth, digital sampler, workstation, serta synthesizer.
“Ini bagian dari kekuatan bunyi, yang saya yakini, musik bukan hanya hadir untuk hiburan, tapi bisa menyembuhkan orang lewat sentuhan rohani,” ujarnya ditemui seusai pertunjukan. Gubahan musiknya, disebut Diddi, sebagai karya terbaru yang membutuhkan waktu lama dalam proses penggarapan.

Di dalamnya ada beberapa komposisi yang memberi banyak pengetahuan tentang dasar bunyi dan kekuatan frekuensi. Seperti dalam repertoar Big Bang, dia menjelaskan bagaimana bunyi menjadi pertanda kehidupan, seperti saat penciptaan alam semesta yang didahului ledakan atau bunyi tangisan bayi saat lahir.

Demi menikmati musiknya, Diddi kerap meminta audiens menutup telinga dan benar-benar meresapi bunyi, sehingga merasakan frekuensi yang merasuk ke dalam diri.
“Seperti ketika bayi, masih dalam kandungan, kita diperdengarkan suara orang mengaji atau musik klasik, begitu juga bunyibunyi ini, memiliki frekuensi bersifat spiritual dan bisa memperkaya batin,” paparnya.

Urutan komposisi dari awal sampai akhir, disebut Diddi, memiliki muatan dan target masing-masing. Ia menyebutnya sebagai penggalian frekuensi yang bisa digunakan untuk penyembuhan dan pencerahan jiwa. Layaknya motivator, Diddi tidak hanya memainkan musik, tapi juga menggiring audiens dengan kalimat afirmatif. Sebagai sebuah seni pertunjukan, penampilan pria yang sudah mendalami musik meditasi selama 20 tahun ini jelas beda dibanding pertunjukan musik biasa.

Lebih jauh, lulusan IKJ ini menuturkan bahwa pendalamannya terhadap musik elektronik untuk meditasi dan spiritual sudah membuahkan hasil. Beberapa ilmunya ia tuangkan dalam buku, yang salah satunya berjudul The Power of Sound dan menjadi bestseller.
Bersama grup Prabbu Shatmata, Diddi mendalami musik dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Sabang sampai Merauke untuk mengenali musik penyembuhan. Sebagai contoh, di Jawa, ada nyanyian atau pengajian untuk tujuan menyambut kelahiran atau panen. “Jika kita memiliki kekayaan bunyi, kenapa tidak digali, sehingga tidak perlu lagi mengimpor lagu dari luar,” ujarnya sambil senyumsenyum.  rai/L-4 

Tidak ada komentar: