4/04/2008


MUSIK, ISLAM DAN PENINGKATAN SPIRITUAL

Kalau kita berbicara masalah Musik secara umum, itulah bahasa universal yang saat ini diterima seluruh dunia, seluruh agama dan golongan manapun. Karena musik bahasa rasa yang bisa membawa pesan apapun termasuk pesan perdamaian. Tetapi kalau kita kaji lebih dalam dan mulai masuk kepada pembahsan yang lebih serius, apalagi bila dihubungkan antara musik dan Islam, sebagai agama mayoritas di negeri kita ini. Maka akan bermunculan pro dan kontra. Memang pada dasarnya pro dan kontra ini telah terjadi sejak jaman Nabi Muhammad Saw ada. Pada kesempatan ini, kita akan mengulas kaitan antara Musik, Islam dan Peningkatan Spriritualitas yang dapat menambah dan meningkatkan tingkat kedekatan (taqarub) dan kesadaran kita terhadap Sang Pencipta.

Musik biasanya tidak terlepas dari syair atau lagu dalam setiap gubahannya. Kebanyakan dari kita menyebut sebagai sebuah nyanyian. Secara umum nyanyian adalah perpaduan antara syair dan nada. Kalaulah sebuah syair/lagu dibacakan dengan nada seperti membaca sebuah buku atau sajak, maka tidaklah dia dinamakan sebagai sebuah nyanyian. Bernyanyi adalah mengeluarkan suara yang di dalamnya terdapat nada-nada tertentu yang tersusun, seiring dengan itu diletakkanlah nada-nada tersebut pada syair/lagu. Maka jadilah dia sebuah nyanyian.


Bila sebuah nyanyian disampaikan dengan suara yang merdu, disebutlah dia nyanyian yang merdu. Tetapi apabila sebuah nyanyian disampaikan dengan suara yang sumbang, disebutlah dia nyanyian yang sumbang/buruk. Suara yang merdu adalah anugrah Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Rasulullah bersabda :

“Allah Subhanahu wa ta’ala tidak mengutus seorang Nabi melainkan pasti suaranya bagus” (HR. Tirmidzi)

Suara yang merdu itu dapat berpengaruh kepada jiwa mahluk hidup. Kalau demikian, bagaimana seorang anak dapat diam dari tangisannya ketika mendengar suara sang ibu mendendangkan sebuah lagu kepadanya. Itulah sebabnya sejak zaman purbakala sampai zaman modern ini manusia mengenal banyak jenis nyanyian.

Sebenarnya lagu dan syair itu telah ada pada setiap bangsa di dunia ini di segala zaman. Rasanya mustahil memusnahkan lagu dan syair dari kehidupan manusia yang beradab. Karena itulah kenapa Rasulullah tidak mengharamkan dan memusnahkan keduanya dalam risalah yang beliau bawa. Di dalam tilawah Al Qur’an, sunnat hukumnya menggunakan suara yang merdu. Rasulullah pernah memuji Abu Musa al Asy’ari, ketika beliau membaca Al Qur’an, “Sesungguhnya telah diberikan kepadanya seruling dari seruling-seruling keluarga Daud” (HR. Bukhari). Adapun, mendengar suara yang bagus pada selain tilawah Al Qur’an didalam hukum Islam adalah Mubah (diperbolehkan). Kalaulah tidak demikian adanya, niscaya menjadi haramlah juga mendengar suara kicau burung murai, nuri dan perkutut yang merdu itu.

Namun demikian, bila mendengarkan suara-suara yang merdu itu menyebabkan hati menjadi lalai dari mengingat Allah, maka bukan dari segi mendengarkannya itu yang diharamkan, akan tetapi adalah dari hal yang membuat lalainya itulah yang haram (dilarang).

Allah berfirman dalam surat Al Mukminun ayat 3:

“(Dan orang-orang yang beriman yang memperoleh kemenangan itu adalah) orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna (sia-sia)”.

Yang paling masyur mengenai nyanyian ini adalah riwayat yang menceritakan bahwa para wanita Madinah (kaum Anshor) naik ke atas rumah-rumah mereka serta memukul rebana dan bernyanyi untuk menyambut kedatangan Rasulullah Saw, pada saat Hijrah dari Kota Mekkah ke Kota Madinah.

Thola’al Baddru ‘alaina, min tsaniyatil wada’i, wajaba syuk’ru ‘alaina, mada’a lilahi da’i

Artinya : “Telah terbit purnama raya pada kami, dari bukit Tsaniyatil Wada, wajiblah kami bersyukur, apa yang diserukan oleh Penyeru” (HR. Bukhari Muslim).

Dan masih banyak lagi dalil-dalil yang membolehkan umat Islam melantunkan syair atau lagu sambil diiringi nada/musik yang merdu. Yang terpenting disini adalah semua kegiatan tersebut tidak membuat kita lalai dari mengingat Allah.

MUSIK DAN SPIRITUALITAS

Kemudian kita beranjak pada pemahaman tentang musik yang lebih universal dalam hubungannya dengan spiritualitas. Musik sesunguhnya adalah kumpulan nada-nada dasar (7 nada dasar) yang dirangkai secara harmoni sehingga menghasilkan komposisi yang merdu dan nikmat didengar dikarenakan adanya harmonisasi dari ketujuh nada dasar tadi. Dalam setiap nada dasar akan menghasilkan sebuah frekwensi (getaran) yang dapat mempengaruhi kepribadian seseorang.

Untuk itulah banyak aliran spiritual menggunakan musik sebagai salah satu sarana untuk mempengaruhi kejiwaan para anggotanya untuk lebih fokus, khusuk dan bisa masuk kedalam dirinya. Karena setiap manusia normal dapat mendengar melalui kedua telinganya. Karena Telinga adalah salah satu dari jendela Qalbu, di samping mata dan panca indera yang lainnya. Dengan demikian, segala sesuatu yang didengar oleh telinga akan memberikan pengaruh pada qalbunya. Itulah sebabnya Allah Swt kelak akan meminta pertanggung jawaban pendengaran ini.

“............ Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”. (QS. Al Isra’ 17 :36)

Melihat begitu pentingnya pengaruh bunyi-bunyian terhadap qalbu manusia, para spiritualis menggunakan musik sebagai sarana untuk mempercepat peningkatan spiritual. Mengapa hal ini dilakukan? Karena secara ilmu pengetahuan ilmiah, manfaat musik atau bunyi-bunyian ini telah diteliti dan dibuktikan secara ilmiah. Dalam dunia teknologi bunyi, suara yang dihasilkan oleh suatu alat musik tertentu akan menghasilkan frekuensi dan gelombang tertentu yang dapat ditangkap oleh manusia. Batas frekuensi suara adalah 20 Hz s/d 20.000 Hz, namun demikian tiap orang, mempunyai kemampuan berbicara, bernyanyi dan berteriak, pada batas frekuensi yang berlainan (tinggi-rendah), serta memiliki batas pendengaran yang berbeda. Secara umum batas itu menjadi bertambah sempit, yaitu antara 200 Hz s/d 800 Hz. Sedangkan batas toleransi frekuensi bicara pada anak dan wanita 800 Hz, laki-laki dewasa 259 Hz dan batas frekuensi alat-alat musik lebih luas lagi, bahkan tak terbatas. Sedangkan untuk berkomunikasi melalui udara dibutuhkan frekuensi 100 Mhz s/d 5 Ghz pada radio. Pada kapal selam yang berkominikasi melalui air, frekuensi yang dipakai adalah frekuensi sonar (ultrasound – 2Khz s/d 100 Khz).

Nah inilah penemuan terbaru dalam dunia ilmu pengetahuan. Bahwa untuk berkomunikasi dan transfer energi melalui jaringan syaraf maka frekuensinya akan mengikuti frekuensi atau getaran dari pusat syaraf (otak) yaitu antara 0 Hz s/d 50 Hz. Karena dengan ditemukannya alat EEG (Electro Enchephalo Graph), maka otak dengan system syaraf Neuron yang ada didalamnya dapat diukur kadarnya. Mulai dari getaran listrik yang terjadi diotak dan berapa frekuensinya.

Para ahli Neurologi kemudian membagi gelombang di pusat syaraf otak itu menjadi 4 kelompok serta pada kondisi apa gelombang itu bekerja:

  1. Gelombang BETA (14-30 Hz). Pada saat sadar, konsentrasi penuh dan serius, dalam kehidupan sehari-hari, berjalan, berlari, makan, minum dan seterusnya.
  2. Gelombang ALPHA (8-13,9 Hz). Pada keadaan rileks dan santai, antara sadar dan tak sadar, mulai merasa mengantuk, yang biasanya tubuh mengeluarkan hormon seratonin dan endoprim, yaitu hormon yang biasanya membuat mengantuk dan membuat tubuh santai, pada saat mulai mau tidur.
  3. Gelombang THETA (4-7,9 Hz). Masuk kedalam keadaan “tidur REM” (Repeat Eye Movement – Kelopak mata bergetar), dalam keadaan trance, meditasi, kreatifitas tinggi, mulai mengalami mimpi dan sebagainya.
  4. Gelombang DELTA (0,1-3,9 Hz). Tidur paling lelap atau tidur dalam, hormon ditubuh bekerja paling minimal, hilang kesadaran secara total, berada dalam ketaksadaran.


Inilah dasar yang digunakan para terapis atau para ahli spiritual untuk membimbing dalam peningkatan spiritual. Dengan menggunakan musik yang lembut, mendayu dan sebagainya dapat membawa seorang pelaku spiritual masuk kedalam diri mereka lebih cepat, lebih khusuk, lebih dalam dan damai. Musik-musik instrumen yang membawa otak meninggalkan gelombang BETA menuju gelombang ALPHA, bahkan THETA.

Jadi dapat ditarik kesimpulan dari uraian singkat ini, bahwa musik dapat membantu seseorang untuk mencapai peningkatan spiritual dan music dalam dunia Islam tidak bertentangan dan bahkan dibolehkan oleh Nabi Muhammad Saw, sejauh kegiatan tersebut tidak berlebihan dan melalaikan diri dari mengingat Allah. Mudah-mudahan Uraian ini ada manfaatnya. Selamat menikmati musik yang membawa diri kita semakin fokus mengarungi khasanah spritualitas diri.